Huawei Rilis Mate 9 Pro, Layar Melengkung dan RAM 6 GB

Huawei sedang getol-getolnya merilis smartphone high-end. Setelah melepas Mate 9 pada awal November, Huawei memperkenalkan varian lainnya, yakni Mate 9 Pro.

Berbeda dari Mate 9 standar yang memiliki layar datar berbentang 5,9 inci resolusi Full HD 1080p, Mate 9 Pro dibekali layar yang ukurannya lebih kecil.

Meski begitu, dukungan resolusinya lebih ditingkatkan dan kedua sisi layar dibuat melengkung, mirip Galaxy S7 Edge. Sepintas, perangkat ini memang mirip dengan smartphone unggulan Samsung itu.

Baca: Huawei Rilis Android Mate 9 dengan Kamera Ganda Leica dan RAM 4 GB

Mate 9 Pro memiliki layar lengkung dengan ukuran 5,5 inci. Layar tersebut mendukung resolusi Quad HD (2.560 x 1.440 piksel).

Di bagian dalam, Mate 9 diperkuat prosesor octa-core Kirin 960. Ada dua kombinasi RAM dan media penyimpanan yang tersedia, yakni 4 GB + 64 GB atau 6 GB + 128 GB.

Produk yang baru diperkenalkan di China ini juga dilengkapi dengan kamera ganda yang dikembangkan bersama Leica, pabrikan kamera terkenal asal Jerman.

Kamera ganda tersebut terdiri dari unit 12 megapiksel (f/2.2) untuk menjepret gambar berwarna, serta unit 20 megapiksel (f/2.2) yang khusus untuk menjepret gambar monokrom alias hitam putih.

Kamera depan Mate 9 memiliki resolusi 8 megapiksel dengan lensa berbukaan f/1.9. Smartphone ini juga memiliki kemampuan merekam video resolusi 4K.

Selain itu, Mate 9 Pro dilengkapi dengan baterai 4.000 mAh dan menjalankan sistem operasi Android 7.0 “Nougat” dengan antarmuka EMUI 5.0 bikinan Huawei.

Di China, Mate 9 Pro dengan kombinasi RAM 4 GB dan media penyimpanan 64 dijual 4.699 yuan atau sekitar Rp 9 juta. Sedangkan versi RAM 6 GB dan media penyimpanan 128 GB dijual 5.299 yuan atau sekitar Rp 10,3 juta.

Huawei sendiri belum mengumumkan kapan perangkat ini akan dijual di luar China.

Samsung Siapkan Rp 13 Miliar Per Bulan untuk Developer Tizen

Samsung sadar betul bahwa Tizen, sistem operasi alternatif Android bikinannya, masih sepi dari aplikasi. Oleh karena itu, perusahaan asal Korea Selatan itu membuka program untuk merayu para developer aplikasi.

Nama program tersebut, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Phone Arena, Selasa (15/11/2016), adalah Tizen Mobile App Incentive Program. Melalui program ini, Samsung menawarkan hadiah uang sebesar 10.000 dollar AS (Rp 133 juta) bagi developer yang membikin aplikasi untuk Tizen.

Meski begitu, tidak semua developer akan mendapatkan hadiah uang itu. Hanya aplikasi yang dinilai sukses saja yang akan diganjar uang tunai sebesar itu.

“Kami dengan gembira merilis program insentif baru untuk menolong mengembangkan dan membawa aplikasi mobile terbarik ke komunitas Tizen dan juga menghadirkan konsumen dengan pengalaman mobile lebih baik,” tutur Woncheol Chai, VP of Global Product Management Samsung.

Baca: Belum Ada Go-Jek di Tizen Z2, Begini Cara Samsung Mengatasinya

Untuk berpatisipasi dalam program ini, pengembang harus mendaftarkan aplikasinya ke incentive.tizenstore.com mulai Januari 2017 mendatang. Aplikasi yang didaftarkan bisa berupa aplikasi yang baru dibuat, atau yang sudah ada saat ini. Kategorinya terdiri atas jejaring sosial, game, lifestyle, dan lain-lain.

Kemudian, Samsung akan melihat 100 aplikasi teratas yang telah diunduh oleh pengguna. Ke-100 aplikasi itu masing-masing akan mendapatkan 10.000 dollar AS. Artinya, Samsung menyiapkan total 1 juta dollar AS (Rp 13 miliar) untuk program tersebut.

Program insentif Tizen ini akan berjalan selama sembilan bulan, Februari hingga Oktober 2017. Setiap bulannya, Samsung akan mengeluarkan hadiah 1 juta dollar AS tersebut. Artinya, dalam sembilan bulan penyelenggaraan, Samsung menyiapkan 9 juta dollar AS.

Di Indonesia sendiri, Samsung sudah punya program sendiri untuk mengajak developer membuat aplikasi Tizen. Dalam acara bertajuk Indonesia Next App 3.0, pengembang aplikasi ditantang untuk membuat aplikasi di tiga kategori platform, yakni Tizen Smartphone, Wearable/Gears Apps, dan Gear VR Content.

WhatsApp Perpanjang Napas di BlackBerry OS dan BlackBerry 10

Pada Februari lalu, WhatsApp mengumumkan bakal memberhentikan dukungan aplikasinya untuk beberapa platform, yakni BlackBerry OS, BlackBerry 10, iOS 6, Windows Phone 7, Nokia Symbian S60, dan Nokia S40.

Aplikasi chatting bernuansa hijau itu mematok akhir 2016 sebagai waktu yang tepat untuk menyudahi kiprahnya di BlackBerry 10 dkk. Kini, menjelang tutup tahun, WhatsApp tiba-tiba merevisi rencana itu.

Baca: Akhir 2016, Pengguna BlackBerry Tidak Bisa WhatsApp-an Lagi

Dalam unggahan terbaru pada situs resminya yang dihimpun KompasTekno, Selasa (15/11/2016), WhatsApp mengatakan masih akan memperpanjang napasnya di BlackBerry 10 dan beberapa platform lain hingga 2017 mendatang.

WhatsApp bakal tetap hadir di BlackBerry OS dan BlackBerry 10 setidaknya hingga 30 Juni 2017 mendatang. Platform lain yang mendapatkan keputusan serupa adalah Nokia S40 dan Symbian S60.

Sementara itu, pada awal tahun 2017, platform yang diwacanakan tak lagi bisa mengakses WhatsApp adalah Android 2.1, Android 2.2, Windows Phone 7, dan iOS 6.

“Beberapa platform tak memiliki kapabilitas yang kami butuhkan untuk mengekspansi fitur-fitur WhatsApp di masa depan,” begitu alasan yang diberikan WhatsApp.

Bersamaan dengan itu, WhatsApp juga menganjurkan pengguna untuk memperbarui sistem operasi ke versi Android 2.3 ke atas, Windows Phone 8 ke atas, dan iOS 7 ke atas, agar tetap bisa menjajal WhatsApp.

Namun, bagi pengguna BlackBerry OS dan BlackBerry 10, tak ada pilihan lain untuk menjajal WhatsApp. Jika merasa benar-benar butuh aplikasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, pengguna harus beralih ke platform lain sebelum pertengahan 2017 mendatang.

Google Akan Blokir Iklan di Situs-situs Berita Palsu

Raksasa-raksasa internet seperti Facebook, Google, dan Twitter banyak disalahkan karena dinilai membantu menyebarkan informasi palsu yang berujung pada kemenangan Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump.

Menanggapi tudingan tersebut, awal pekan ini Google mengumumkan rencana untuk memblokir tayangan iklan dari jaringan AdSense miliknya di situs berita yang menayangkan informasi palsu atau hoax.

“Ke depan, kami akan membatasi penayangan iklan di laman-laman yang memalsukan atau menyembunyikan informasi mengenai penerbit, konten penerbit, atau tujuan utama dari properti web dimaksud,” tulis Google dalam sebuah pernyataan yang dirangkum KompasTekno dari Reuters, Selasa (15/11/2016).

Dalam menyortir situs yang dinilai menayangkan berita palsu, Google akan menerapkan evaluasi dengan kombinasi tim manusia dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kecerdasan buatan ini mampu belajar ciri-ciri situs berita palsu sehingga makin mempercepat proses penyaringan.

Tidak dijelaskan lebih lanjut soal bagaimana Google akan mengimplementasikan kebijakan baru tersebut.

Pemberitaan palsu atau hoax mengenai para para kandidat presiden marak bermunculan menjelang pemiliu AS yang dilangsungkan minggu lalu.

Baca: Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?

Para penerbit berita palsu memanfaatkan femomena ini untuk memancing trafik ke situsnya, yang kemudian bisa dikonversi menjadi pendapatan dengan menayangkan iklan AdSense dari Google.

Google sendiri selama ini memiliki peraturan yang melarang penayangan AdSense bersama konten yang berbau pornografi atau kekerasan. Kriteria tersebut kini ditambahi dengan situs berita palsu.

Dengan memblokir iklan AdSense, diharapkan para penerbit berita palsu bakal kehilangan sumber pendapatan sehingga mengurangi minatnya membuat situs serupa, yang ujungnya jumlah informasi hoax yang beredar diharapkan berkurang juga.

Meski demikain, kebijakan di atas tidak berpengaruh di di laman hasil pencarian Google. Berita hoax masih bisa saja muncul di hasil pencarian Google.

Apple Ikutan Bikin Kacamata Pintar?

Usai arloji pintar, Apple kabarnya sedang mencari-cari kategori perangkat baru untuk melebarkan sayap. Perusahaan yang berbasis di Cupertino, Amerika Serikat ini disinyalir berminat dengan wearable device berbentuk kacamata pintar.

Perangkat semacam ini diharapkan bisa terhubung secara nirkabel ke gadget macam iPhone, lalu menayangkan gambar atau informasi lain di depan mata pengguna. Ada juga kemungkinan implementasi Augmented Reality (AR) yang memang diminati oleh Apple.

Baca: Mengapa Apple Pilih Kembangkan AR, Bukan VR?

Keterangan sumber yang dirangkum KompasTekno dari Bloomberg, Selasa (15/11/2016), menyebutkan bahwa Apple tengah mengeksplorasi kemungkinan membuat kacamata pintar tersebut.

Disebutkan juga bahwa Apple telah membicarakan perangkat dimaksud dengan para pemasok komponen potensial, juga memesan sejumlah kecil komponen layar “near-eye” (yang ditempatkan di depan mata) untuk keperluan pengujian.

Kacamata pintar sendiri bukan barang baru. Google telah mulai bereksperimen dengan perangkat serupa yang bernama Glass sejak beberapa tahun baru. Microsoft pun memiliki HoloLens.

Terakhir, Snap Inc. (Snapchat) mengimplementasikan konsep yang mirip tapi lebih terbatas dengan kacamata berkamera Spectacles.

Kacamata pintar bisa membantu upaya Apple merambah ranah wearable device lebih jauh di tengah penjualan iPhone yang mulai melamban. Perangkat macam ini juga bisa dijadikan perwujudan teknologi AR yang sedang terus dikembangkan oleh Apple lewat riset dan berbagai akuisisi.

Galaxy S8 Bakal Dibekali Layar ala iPhone?

Berbeda dari pemindai sidik jari yang kini sudah menjadi fitur standar, teknologi 3D touch ala iPhone 6s dan iPhone 7 masih belum banyak ditemukan di ponsel Android.

Namun hal itu mungkin akan segera berubah karena Galaxy S8 dari Samsung kabarnya bakal mengusung fitur serupa, menurut informasi yang dirangkum KompasTekno dari Ubergizmo, Selasa (15/11/2016).

Force Touch atau 3D Touch merupakan fitur yang mengandalkan hardware display “pressure sensitive”, di mana ponsel mampu mengukur tekanan jari pengguna di atas layar.

Pengukuran tekanan ini lantas bisa dipakai untuk memunculkan menu tambahan di antarmuka ponsel. Misalnya, dengan menekan dan menahan jari di atas ikon aplikasi, ponsel bisa memunculkan option baru.

Baca: Samsung Caplok Perusahaan Audio Harman Rp 107 Triliun

Sistem operasi Android 7.0 “Nougat” terbaru diketahui sudah mendukung penggunaan layar pressure sensitive sehingga membuka kemungkinan implementasi fitur ala 3D Touch.

Namun, ponsel Pixel besutan Google sendiri masih belum dilengkapi dengan teknologi layar pressure sensitive.

Satu perangkat Android yang sudah memiliki layar macam ini adalah Huawei Mate S, tapi hanya tersedia di model teratas yang dipasarkan secara terbatas.

Akankah Galaxy S8 memasyarakatkan fitur 3D Touch di ekosistem Android? Benar tidaknya informasi ini akan diketahui ketika perangkat itu meluncur tahun depan.

Selain 3D Touch, Galaxy S8 juga dikabarkan bakal melengkapi diri dengn fitur asisten virtual Bixby serta layar ganda dan curved screen.

Resmi, Android Vivo V5 dengan Kamera “Selfie” 20 MP Dijual Rp 3,5 Juta

Vivo resmi merilis smartphone berbasis Android terbarunya, V5, dalam acara peluncuran di India pada Selasa (15/11/2016). Mengandalkan kamera selfie 20 megapiksel yang ada di V5, Vivo menyasar kalangan muda.

“Peluncuran V5 menandai kiprah Vivo dalam mengembangkan teknologi baru untuk kamera smartphone, sekaligus memberi pengguna pengalaman baru,” ujar CEO Vivo India, Kent Cheng, dikutip KompasTekno dari AndroidAuthority.

Pengalaman baru yang dijanjikan Vivo antara lain tercermin dari fitur “Moonlight Glow” yang ada di kamera depan. Fitur ini diklaim bisa meningkatkan kecerahan wajah dengan kondisi pencahayaan ala kadarnya, tanpa harus membuat mata memicing karena lampu flash.

Menurut Vivo, fitur tersebut bisa menjaga kualitas foto selfie tanpa menjadikannya berbintik, terdistorsi, atau ditimpa lampu flash yang terlalu keras.

Baca: Apa Kesamaan Oppo, Vivo, dan OnePlus?

Kamera depan Vivo V5 sesuai bocoran, memiliki sensor dengan resolusi yang lebih tinggi dibanding kamera belakangnya. Hal ini berguna untuk mendukung fitur selfie tadi. Adapun resolusi sensor kamera depannya sebesar 20 megapiksel, sementara kamera belakangnya 13 megapiksel.

Selain itu, ada pula fitur sensor sidik jari yang bisa dipakai mengaktifkan aplikasi dengan cara menyapukan layar ke bawah ke arah sensor sidik jari.

Fitur Smart Screen-Split memungkinkan pengguna membuka beberapa aplikasi sekaligus tanpa harus membuka-tutup atau beralih dari satu aplikasi ke yang lainnya setiap notifikasi baru muncul.

Vivo juga menyertakan chip audio Hi-Fi buatannya sendiri, AK4376, yang diklaim bisa memberi pengalaman audio yang tidak mengecewakan.

Spesifikasi Vivo V5

Menilik spesifikasinya, Vivo V5 mengusung layar berbentang 5,5 inci resolusi HD 720p, kaca 2,5D, chipset Qualcomm Snapdragon 652 dengan prosesor octa-core 64 bit 1,8 GHz, RAM 4 GB, dan memori internal 32 GB yang bisa diekspansi dengan kartu microSD hingga 128 GB.

Smartphone dengan bobot 154 gram ini dibekali baterai dengan kapasitas 3.000 mAh. Vivo V5 menjalankan sistem operasi Android 6.0 “Marshmallow” dengan tampilan antarmuka FunTouch OS 2.6.

Vivo V5 dijual di India dengan banderol harga 17.980 rupee atau sekitar Rp 3,5 juta.

Vivo sendiri nampaknya juga sedang bersiap memasarkan smartphone V5 ini ke Indonesia, terbukti dari beberapa aktivitas Facebook Vivo Indonesia yang gencar menampilkan informasi ponsel tersebut belakangan.

Namun, belum diketahui kapan Vivo V5 bakal dirilis di Tanah Air.